prajurit tua

pakde saya adalah seorang veteran perwira angkatan laut, letkol tepatnya. setelah sempat menjadi anggota DPRD-fraksi ABRI saat itu, sekarang masih saja enggan ‘pensiun’ dan aktif di legiun veteran RI…dasar prajurit. beberapa minggu sebelum HUT TNI yang ke 63 kami bertemu di Jakarta dalam sebuah acara keluarga.

disaat saya masih mencerna masakan kakak saya saat itu entah pecel atau gado-gado, pakde saya bilang “tolong yah buatin puisi, mau pakde baca saat hari ABRI”. hah puisi? Sedari kecil saat nonton siaran upacara hari ABRI di TVRI yang ada deville pasukan dari kopasus sampai satpam dan hansip juga ikut serta, lalu ada pertunjukkan bela diri, atraksi F-15 atau F-16 atau kadang ada terjun paying…tapi tidak ada pembacaan puisi, betul khan?!. “judulnya prajurit tua” sambil menyerahkan selembar kertas biru berisi kutipan dari Jenderal Amerika sewaktu perang dunia II…saya lupa namanya tapi saya ingat satu baris saja yaitu ‘prajurit tua tak pernah mati!’.

setelah berhari-hari dan sampai hari TNI sudah lewat saya masih kesulitan membuatnya….saya bukan tentara, saya tidak pernah menjadi tentara. aktivitas semi militer yang pernah saya ikuti hanya baris-berbaris itupun karena pelatihnya adalah salah satu personil Korem di kota saya. Tapi tentu saja sebuah kehormatan diminta membuat sebuah bentuk tulisan tentang prajurit…jadi saya harus bekerja keras.

di negara ini pernah suatu waktu anggaran militer lebih tinggi dari anggaran pendidikan. tapi pernah juga dimana tentara kita kesulitan memperoleh peluru untuk latihan karena anggaran yang kurang. juga pernah ada masanya tentara sangat berkuasa sampai desa, tapi juga ada waktunya saya lihat mereka dilempari kantong kencing mahasiswa.

Jadi pakde, dengan segala ke-awam-an saya soal prajurit saya mencoba menulis tentang mereka terutama mereka yang menjadi tua tapi tidak mati….silahkan


prajurit tua

tak pernah mati, hanya menghilang

tidak di baris depan

juga bukan tinggal gelanggang

masih tersisa

peluru peluru yang membakar daging

dan

pedang pedang yang merobek tulang

dan

meriam yang memuncratkan darah

dan

ranjau ranjau yang mencerabut kaki

prajurit tua tetap tak pernah mati

sebab

yang harus mati

adalah itu biji biji tidak peduli

sebab

yang harus mati

adalah itu galur galur putus asa

sebab

yang harus mati

adalah itu kotak kotak individualis

sebab

yang harus mati

adalah itu bau busuk munafik

sebab

yang harus mati

adalah itu suara suara bohong

prajurit tua tak pernah mati

mungkin jadi tanah mungkin jadi debu

tapi tidak mati


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s