Facebook

biasanya ada banyak ‘kegaduhan’ di kantor bisa jadi bonus tahunan yang tidak 1 kali gaji, pasca lebaran – karena kantor menjadi arena bermain anak anak (nanny mereka masih on the way dari kampung) dan yang baru adalah setelah facebook diblokir! Diblokir…apa kata dunia? Lalu dimana kita menuangkan kenarsisan kita??? Tenang aja masih banyak jalan menuju eksis!

Dari survey iseng yang di-conduct oleh saya sendiri, semua personal computer memajang halaman facebook di divisi saya. Wah hebat bener, pantes kalo pasang iklan disitu mahal sekali USD 10.000. sama dengan harga satu mobil avanza! Facebook menghambat kinerja dan memakan bandwith sehingga mengganggu produktivitas kerja kata HR Director saya, itu adalah pernyataan resmi yg pasti sudah dibuat draftnya. Wah hebat bener (lagi). Mungkin pernyataan tidak resminya: lu pikir ni kantor ini warnet mbahmu opo? pake blackberry sana kalo mau facebook-an!

Kata temen saya ”jadi lu setuju facebook diblokir?? Kan kita kudu berinteraksi sama kominiti..komuniti…” ” setuju diblokir ” kata saya ” koq gitu? ” gimana sih tadi ditanya sekarang diajak adu argumen batin saya ” biar ndak ganggu produktivitas kerja dan ndak ganggu orang dengan komen nggak penting ” ” lho sekarang bikin janji ketemu klien aja gampang lewat facebook koq ” nih orang sebenenya nanya apa ngetes batin saya lagi ” lho koq ndak meeting sekalian di facebook aja bisa toh…?? ” jawab saya ” ah lu nggak ngerti poinnya sih, maksudnya lewat facebook kita bisa jaga networking ” tuh khan emang ngetes orang ini. ” networking gimana maksudnya, bisa jadi fans benyamin s, fans-nya miyabi, untung-untung diconfirm sama tokoh nasional atau artis gitu….?? ” ” ah susah ngomong ama lu….sebetulnya alasan lu apa sih koq mendukung facebook di blokir ” nah ngetes lagi….asem ” lho wong gw bukan yang punya kantor ” gampang khan.

Tiba tiba ada email dari teman kuliah bagaimana meningkatkan produktivitas kerja: Pertama gaji, kedua lingkungan kerja, dan kesempatan berprestasi. Artikel yang diambil dari tesis mahasiswa magister manajemen di Sumatera Utara…bah!

Iklan

Peduli..tidak..peduli..tidak

Siapa mereka itu yang tidak bertanggung jawab? Selain Karl Marx…..weitss tunggu kenapa Karl Marx kok tidak bertanggungjawab?? Lha iya bikin konsep sosialisme tapi sekarang nggak jelas dan kaya permen karet (mudah dikunyah nggak bisa ditelan), harusnya dia minta maaf !!! Jadi selain Karl Marx, mereka yang tidak bertanggung jawab adalah orang yang memberi wacana yang sampe saat saya menulis saat ini masih bekerja keras mencernanya. Sial!

Teman saya yang baik ini melontarkan wacana ‘ignorance is bliss’…in indonesia please! Yah ketidakpedulian adalah surga katanya. Hidup lebih enteng meski tanpa diet dan ke fitness (ooo that’s why, dett) dengan ketidakambilpusingan terhadap hal lain. Saya coba tidak ambil pusing dengan kalimat ini, tapi tidak bisa dan jadi mikir dan jadi peduli walaupun nggak pusing. thanks to her! Kok nggak peduli bisa jadi surga ya, ayolah pasti ini kiasan tapi tetap sulit juga berada pada posisi itu. Coba bayangkan kalo kita semua menganut paham itu, wah nggak ada gosip yang pasti…who cares anyway, sindikat pengemis nggak akan ke Jakarta tiap bulan puasa, baca koran jadi nggak seru karena nggak ada surat pembaca (rubrik favorit saya!), pasti para customer care onkang ongkang karena nggak ada komplain.

Memang banyak kenyataan yang menyebalkan yang membuat sisi baik hati kita seperti dikhianati. Tapi ya memang itu sesuatu yang perlu dilakukan toh! Yah Nabi aja disambit dulu sebelum disambut, dielek-elekan sebelum dielu-elukan.

‘tapi kita khan bukan Nabi’

‘iya juga nggak kepingin jadi Nabi, nanti kaya Lia Eden’

Yah Dett, kalo ketidakpedulian itu surga maka peduli bukan neraka dong? Siksaan mungkin…siksaan yang kejam. Tapi dett bukannya lo masih ngga yakin dengan surga dan neraka?! Yah kalau gitu biarlah ‘ignorance is bliss’ tetap jadi kalimat di puisi Thomas Gray saja atau grup band dari Adelaide……loh (lho) kalau gitu Thomas Gray juga perlu minta maaf dong seperti Karl Marx! Mungkin…

Mangkel

Mangkel, iya bukan mengkel! Sudah seminggu ini kalau baca koran beritanya soal Israel yang rajin bombardir Gaza. Yang membuat mangkel adalah nih agresinya tidak ada yang bisa njewer. PBB tidak bisa njewer hanya bisa mengutuk..lho emangnya israel itu malin kundang apa?! Amerika? Nggak perlu diharapkan. Obama yang paling ditunggu komentarnya seperti kita nunggu komentar Mama Loren di akhir tahun saja masih diam ‘Hanya ada satu presiden saat ini’ maksudnya Presiden Bush yang harus berkomentar soal ini. Loh (lho), waktu teror di mumbai Obama langsung berkomentar. Sebetulnya nggak perlu nunggu komentar Obama juga apakah dia mau menentang atau mendukung, Israel tetap akan membombardir gaza. Mr. Obama apa sampeyan sohibnya Megawati? Silence is golden!

Saya jarang bicara soal masalah luar negeri dan lebih suka bicara lokal, tapi memang Israel agak naif dengan alasannya. Tidak sadar mungkin mereka bahwa ini seperti permainan ping pong, semakin keras memukul yah pantulannya semakin keras. Yang repot kalau pantulannya ke mana mana termasuk ke Indonesia. Resistensi terhadap Israel dan Amerika jadi semakin hebat, mau membasmi teroris malah memupuk teroris jadi gemah ripah loh jinawi. Tuh kan masih nyambung dengan masalah lokal juga.

‘Kami hanya memerangi Hamas, bukan warga Palestina’ kata Ehud Barak. Yah tapi korbanya banyak tuh yang anak-anak kata dunia. Mungkin dunia juga yang naif! Syekh Ahmad Yassin pendiri Hamas,mengkader anak anak dari umur 10 tahun yang akhirnya lahir gerakan intifadha pertama. Saya waktu SMP sering melihat di TV anak anak Palestina melempari batu tank tank Israel tanpa kenal takut. Jadi anak anak Palestina juga dianggap laten Hamas oleh Israel! Kok Israel nggak belajar dari kisah moyang mereka David dan Goliath, sekarang siapa yang Goliath?!. Goliath dikalahkan dengan katapel dan batu, sekarang siapa yang melempar batu?!.

6.30

Coba koes plus buat lagu soal jakarta pada tahun 2009..”ke jakartaaa aku kan kembaliiiii, walaupun apa yang kan terjadiii” yakin pakde?. Pagi ini adalah pagi yang membius saya untuk tetap di tempat tidur, sudah dibius ditambah ada setan yang teriak di kuping saya bilang ngak usah masuk lah. Tapi tentu tidak mempan karena resolusi saya tahun ini adalah mempunyai sikap juara….hebat toh! Tidak boleh males, tidak boleh negative thinking kecuali sama politisi, tidak boleh putus asa kecuali sama jalanan yang macet…nah soal yang ini termasuk yang mendorong saya bangun dari racun bantal pagi ini. Hari ini anak sekolah masuk jam 6.30 hahaha emang enak, kata wagub dengan masuk pagi anak anak lebih bisa menikmati udara yang bersih dan bersemangat belajar selain mengurangi kemacetan…yeah mr wagub you’re right? Coba tanya sana sama anak yang sekolah di semper atau sunter. Udara bersih apa? Bersin kali pak!

Katanya mengurangi kemacetan, tapi tetep aja macet kok! Eh kan nggak boleh negative thinking, ‘mungkin ada kecelakaan kali’ kata saya. Nggak ada tuh yang ada motor yang jalannya potong bebek angsa (maksudnya serong kanan serong kiri), metromini seperti roti tawar besar yang ngetem lama, penyebrang jalan yang seperti kucing (punya 9 nyawa)….tetep sama, tetep macet. Yah sudahlah jadikanlah macet seperti adat, walaupun nggak suka toh tetep dijalani.

Gimana biar nggak macet? Nggak perlu ahli transportasi sih untuk memecahkan masalah ini. Usul saya, buatlah aturan bahwa kerja bisa dilakukan dirumah, belanja bisa lewat online dan diantar, sekolah menggunakan video conference. Agak mimpi sih, ya sudah kalo gitu jam masuk kantor jadi siang dan hari kerja jadi 4 atau 3 hari hahahaha….nggak boleh negative thinking.