Peduli..tidak..peduli..tidak

Siapa mereka itu yang tidak bertanggung jawab? Selain Karl Marx…..weitss tunggu kenapa Karl Marx kok tidak bertanggungjawab?? Lha iya bikin konsep sosialisme tapi sekarang nggak jelas dan kaya permen karet (mudah dikunyah nggak bisa ditelan), harusnya dia minta maaf !!! Jadi selain Karl Marx, mereka yang tidak bertanggung jawab adalah orang yang memberi wacana yang sampe saat saya menulis saat ini masih bekerja keras mencernanya. Sial!

Teman saya yang baik ini melontarkan wacana ‘ignorance is bliss’…in indonesia please! Yah ketidakpedulian adalah surga katanya. Hidup lebih enteng meski tanpa diet dan ke fitness (ooo that’s why, dett) dengan ketidakambilpusingan terhadap hal lain. Saya coba tidak ambil pusing dengan kalimat ini, tapi tidak bisa dan jadi mikir dan jadi peduli walaupun nggak pusing. thanks to her! Kok nggak peduli bisa jadi surga ya, ayolah pasti ini kiasan tapi tetap sulit juga berada pada posisi itu. Coba bayangkan kalo kita semua menganut paham itu, wah nggak ada gosip yang pasti…who cares anyway, sindikat pengemis nggak akan ke Jakarta tiap bulan puasa, baca koran jadi nggak seru karena nggak ada surat pembaca (rubrik favorit saya!), pasti para customer care onkang ongkang karena nggak ada komplain.

Memang banyak kenyataan yang menyebalkan yang membuat sisi baik hati kita seperti dikhianati. Tapi ya memang itu sesuatu yang perlu dilakukan toh! Yah Nabi aja disambit dulu sebelum disambut, dielek-elekan sebelum dielu-elukan.

‘tapi kita khan bukan Nabi’

‘iya juga nggak kepingin jadi Nabi, nanti kaya Lia Eden’

Yah Dett, kalo ketidakpedulian itu surga maka peduli bukan neraka dong? Siksaan mungkin…siksaan yang kejam. Tapi dett bukannya lo masih ngga yakin dengan surga dan neraka?! Yah kalau gitu biarlah ‘ignorance is bliss’ tetap jadi kalimat di puisi Thomas Gray saja atau grup band dari Adelaide……loh (lho) kalau gitu Thomas Gray juga perlu minta maaf dong seperti Karl Marx! Mungkin…

Iklan

4 pemikiran pada “Peduli..tidak..peduli..tidak

  1. ada cerita lucu ttg marx yang bth 10 tahun untuk menulis bukunya, dan saat buku yang sudah dinanti2 oleh banyak akademisi itu keluar, banyak tanda tanya yang dikeluarkan oleh para pembacanya…. dan alhasil marx sendiri yang menulis analisa terhadap tulisannya (dengan nama samaran) akhirnya bisa sedikit lebih (lho, kok sedikit pake lebih sih) bisa dipahami oleh para pembacanya….

    the end of the story… ternyt analisa itu lebih disukai dibanding buku itu sendiri (go figure) hehehehe…

    pendapat gue pribadi, penulis adalah Tuhan saat dia menuliskan bukunya… saat lo jadi Tuhan, harusnya tidak ada yang dipertanyakan, bukan?

    1. hahaha….. pendapat dr orang yg nulis buku….kalau gitu kenapa marx harus menulis analisa dg nama samaran? mmm apa marx percaya tuhan ya?? (wondering)

  2. menurut gue, ignorance tidak sama dengan ketidakpedulian. ignorance mungkin lebih tepat dibilang, ketidaktahuan atau kurang pengetahuan 🙂
    kalau kamu tidak tahu apa-apa, hidup juga nggak jadi ribet. wong nggak tau apa-apa juga. hehehehehe…
    sayang, manusia itu termasuk makhluk yang pengen tauuuu aja. there is no such thing as ignorance. kalo loe nggak tahu, loe nggak gaul atau nggak cool. makanya, hidup jadi ribet deh. tapi itu indahnya hidup. ribet :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s