gintung

nah…temen saya pernah bilang ‘ siapa yang tidak bersahabat dengan alam, maka alam yang bersahabat dengan dia dengan di-alam-kan’. maksudnya alam dalam hal ini air punya logika yang sederhana: bergerak dari yang tinggi ke yang rendah,  memiliki tekanan ke segala arah, mempunyai sifat kapilaritas merembes melalui celah celah sempit, mengikuti bentuk wadah…sebetulnya ada 7 sifat dasar benda cair yang kita dulu pelajari pada pelajaran IPA kelas lima. kalau anda masih ingat semua…hei Are you smarter than 5th grader?

Stasiun TV benar-benar mantap memanfaatkan momen, dibuat VT kondisi gintung, tambah dikit ekspresi korban, cari lagu yang representatif dan menggelontorkan tsunami retorika: ini salah siapa? apakah ini bencana atau kelalaian manusia? dst dst.

‘jadi ini salah siapa om’ eh mpok ani baru pulang kampanye partai kuning

‘wah ndak tahu saya’ memang bener ngga tahu

‘kayanya salah presiden deh om’ ….lho kok jadi presiden disalahin

‘dulu pas SBY jadi presiden ada tsunami besar sekarang pas mau pemilu ada tsunami gintung’….kasihan juga SBY hahahaha

‘ah itu kan mpok aja yg baru pulang dari kampanye wapres-nya’

‘dukunnya kurang kuat kali ya’….nah kesibukan mencari hal rasional sudah mulai menjengkelkan maka hal irasional adalah solusi

‘bukan dukunnya mpok, tanggulnya kurang kuat? kan peninggalan belanda’ kata saya berusaha mengembalikan ke jalur logika

‘kalo yg bikin belanda harusnya kuat dong om kan mereka ahli bikin bendungan’….sial touche! ini ngajak debat apa ngetes

‘lha bikinnya kan udah dari tahun 1932’

‘lho udah lama toh, emang ga ditengokin, emang ga ada perawatan’

‘ngga tahu, mau saya tanyakan ke camatnya?’

’emang om kenal?’

‘ya ngga, atau mau saya tanyakan teman saya yg jadi caleg’

‘lho kok?’

‘iya kan caleg pasti banyak yang sudah bereaksi (dan sedikit berekreasi) datang ke gintung’

‘ah dulu waktu RW bawah kebanjiran gak ada caleg yg bantuin’

‘makanya banjirnya lima tahunannya disinkronkan sama masa kampanye dong’

Iklan

si aswatama

kadang saya suka bertanya, kenapa ya kok banyak sekali buku wayang di rumah. kenapa juga saya jadi baca…padahal di masa itu (ngga lama banget) cerita wayang berkompetisi dengan chinmi-kungfu boy, conan, macgyver, airwolf….cukup nanti makin eksplisit masa kecilnya hahaha. toh kalau ketahuan kenapa? ya tidak apa apa. saya cuma suka cerita wayang, tapi kalau nonton nggak terlalu…semalam suntuk. tidak segila itu.

jadi, dikisahkan bahwa pandawa sudah mati akal untuk mengalahkan bisma, bisma itu adalah panglima perang kurawa yang mengajarkan teknik perang pandawa dan kurawa waktu mereka masih abg. istilahnya ya buaya kok di kadalin atau komodo kok dicicakin (lebih jauh gap-nya). nah si resi bisma ini tidak bisa dikalahkan, sakti, ampuh dan yang paling utama adalah pandawa segan.

untungnya (atau sialnya) pandawa memiliki penasihat yang semi licik Krisna. Dia menghasut sulung pandawa Puntadewa untuk berbohong…masalahnya Puntdewa ini adalah the most jujur person di dunia wayang, tidak pernah berbohong makanya diceritakan bahwa darahnya berwarna putih (bukan leukimia) karena saking tidak mau berbohongnya.

mungkin Krisna itu bilang:

‘dik Punta, ini khan kita sudah mulai ngos-ngos-an lawan resi bisma. kita musti cari akal agar kita jadi joss lagi’

‘joss markojos maksudnya mas kris ya’  tanya lugu punta

‘lha iyo, to dik! kalo bisma ndak segera ditumpas yo cilaka ini’

‘cilaka piye to mas’

‘hllhoh, pertama astina tidak jadi milik pandawa, yang kedua lho aku ini dibayar perjam jadi konsultan je..’ alasan yg kedua saya buat sendiri ( 🙂 )

‘gimana caranya mas’

‘begini, bisma itu punya anak namanya aswatama. nah kita undang infotainment itu dan kita bikin gosip aswatama itu mati. nah pasti bisma jadi linglung karena anak satu-satunya mati, ya to!’

‘tapi mas, emangnya resi bisma bakal percaya, dia pasti cek and ricek to mas’

‘nah makanya yg bilang aswatama mati ya panjenengan dik’

‘hah aku, emoh aku mas. nanti image ku hancur. mas mbok jgn bikin character assassination gini mas’

‘lho, tenang aja. ada tungganggan perang…binatang gajah namanya yo aswatama. kita bunuh gajahnya lalu bilang aswatama sudah mati. secara teknis kamu ndak bohong’

‘gimana ya, nanti kalo aswatamanya muncul piye mas?’

‘hlloh, tenang aja dik. aswatama orang biar aku urusi. wis pokoke beress’

betul, krisna membujuk aswatama untuk bersemedi agar kesaktiannya tidak tertandingi di perang itu. setelah aswatama berhasil di pulau buru kan oleh krisna. siasat itu dijalankan, disebarkan berita bahwa aswatama mati. semua prajurit pandawa bersorak bahwa aswatama mati, aswatama mati. beritanya sampai kepada bisma. seperti diduga, dia tidak percaya begitu saja…di cek and ricek

‘betul itu puntadewa?’

‘no komen, resi’

‘heh aku nanya, bener gak aswatama mati? kamu kan ndak pernah bohong pasti berita yg keluar dari mulutmu itu jujur’

‘iya resi aswatama mati’ sambil berbisik ‘aswatama gajah’

bisma kalut, tidak on grip lagi, mulai sedikit linglung persis nanti para caleg yang gagal ke senayan. di saat kalut tadi, anak panah arjuna melesat trengginas ke leher bisma. tidak siap dengan serangan…anak panah itu mulus memotong leher bisma dan roboh. panglima terakhir kurawa sudah mati.

‘lho mas, terus aswatama orang gimana?’

‘ada, setelah perang dia menuntut balas dan membunuh kerabat pandawa kecuali parikesit’

kampanye mulai

dugaan sinis saya bilang kampanye kali ini masih seperti karnaval 17 agustusan. Konvoi motor dengan banyak atribut partai sama seperti konvoi motor saat indonesia kalah lawan arab Saudi di piala asia 2 tahun lalu. Lima tahun lalu masih mending, sekarang yang kampanye selain partai juga caleg..yang ada hanya adu teriak pilih eh contreng caleg nomor sekian karena bla bla bla.

“kalau aku tinggal nunggu sembakonya aja om” kata mpok ani – tukang cuci di rumah saya

“emang udah ada yang ngasih mpok?”

“udeh”

“nah kan udah tuh, dari partai mana?”

“partai presiden om, tapi kan kita penganut politik bebas aktif om”

“maksudnya?” bingung saya

“bebas menerima sumbangan, aktif mencari yang gratisan”

“lho itu berarti ndak loyal dong mpok”

“mpok sih loyal ama kebutuhan aja, butuhnya sembako ya loyal ama sembako kalau butuhnya duit ya loyal ama duitnya aja”

“nah mpok nanti contreng siapa pas pemilu?”

“yah belum tahu, om”

“kenapa belum tahu mpok, emang kurang sosialisasi apa?”

“nggak, mpok ama babenya anak anak mau piknik ke ragunan soalnya”

“tempe…” kata saya pemilu sekarang jelas lebih mahal dari tahun 2004, yang membuat mahal adalah cuma sedikit pilihan yang dipunyai untuk biaya yang besar sekali.

“om, tapi kan partainya banyak” mpok ani memang suka memancing omongan

“partainya jadi banyak karena misah dari partai lama, mpok”

“nggak ngerti saya om?” kalau sembako gimana? – kata saya dalam hati

“iya ada pengurus partai yang pengen punya partai sendiri, terus bikin partai baru. Logo ama warnanya hampir sama”

“oo maksudnya kaya si titi itu yang buka warung beras misah dari mak-nya”

“nah persis” tuh kalo sembako ngerti die

“kalo gitu berasnya sama aja dong, beda lapak doang”

“nah persis” tuh ahli banget kalo soal beras die

“yah kalo gitu mpok cari yang bisa ngasih benefit lebih ama mpok aja”

“nah persis” hah benefit ???

idealisme apa

so hok gie bilang kalau mahasiswa itu seperti koboi, apabila ada kekacauan mereka turun ke jalan menyelesaikan persoalan lalu sudah. kembali lagi ke kampus, kuliah lagi, lulus dan selesai. jadinya seperti memberi cek kosong sama oportunis oportunis itu. padahal mereka sedang melihat diri mereka sendiri 20 tahun kedepan. siapa yang tahu?

waktu saya jadi mahasiswa baru, romantisme masa lalu mahasiswa itu terus dibangunkan oleh angkatan lama, sepertinya kami diyakinkan bahwa kami juga berhak atas kue sejarah negara ini. dan begitu seterusnya untuk angkatan dibawah kami. dan setiap angkatan pasti kebagian kue itu. pakde saya selalu bilang cuma gerakan mahasiswa yang murni!

‘murni gimana pakde?’

‘iya soalnya pake hati nurani’ untung belum ada partainya wiranto saat itu

‘lo pakde, waktu tahun 66 itu motivasinya kan ekonomi sulit, naik bis umum mahal, makan apalagi’

‘maksudnya?’

‘ya gerakannya pake alasan ekonomi juga dan siklus’

‘siklus? Koq seperti bude ada siklusnya? Maksude gimana?’

‘angkatan 45 didemo angkatan 66, angkatan 66 didemo angkatan 98, nanti pasti angkatan 98 juga didemo’ memang begitu siklusnya

‘jadi kaya wc umum gitu?’ kata pakde

‘lho kok?’

‘iya, waktu diluar gedor gedor, waktu di dalem digedor gedor’

banyak teman yang saya jumpai di kampus sekarang sudah terpampang di poster sebagai caleg. mereka adalah mahasiswa yang dulu teriak ‘turunkan soeharto’ dan ‘turunkan gus dur’. siapa tahu mereka nanti yang diteriaki ‘maling’.

kenapa kurawa

waktu perang dahsyat “baratayudha” berakhir, astina dimenangkan oleh pandawa-pesta hanya berlangsung sebentar. yudhistira melamun sedih, seperti tidak memenangkan apa-apa! setelah 99 pria kurawa itu kalah perang maka pandawa ujug-ujug kehilangan semangat, tiba tiba tidak rosa rosa seperti eyang maridjan. pandawa tahu bahwa perang itu sudah takdir mereka, juga sudah takdirnya menang, istilahnya udah dari sananya dari yang membuat cerita.

tapi pandawa tak tahu apa yg diperbuat setelah menang? mereka tidak heroik mati saat perang, tidak seperti kurawa yang gugur di kurusetra. pandawa juga tidak meminta perang, toh tetap terjadi. pandawa mungkin tidak suka perang apalagi yang diperangi adalah saudara misan sendiri. tapi perang tetap terjadi, banyak korban dan hamper semuanya saudara sendiri. kalau mau egois sedikit saya bisa bilang: ini hanya hiburan bagi kami, pandawa dan kurawa cuma lakon.

tapi rasa yudhistira setelah perang itu lebih besar dari perang itu sendiri. semua pandawa setelah perang itu diceritakan menjadi pertapa dan mati di gunung. sehabis perang seakan-akan semua energi itu dijinakkan dan itu yang membunuh pandawa.

“le kok rumit yo, wong ini cuman wayang” kata mbahe tole

“lho wayang itu memang dibuat rumit ceritanya, kalau sederhana ya nggak sampe semaleman pentas-nya”

“bukan, itu lho menang ya menang, winner takes all” kata mbahe tole (lagi)

“lho (lagi) pandawa itu mati ngenes gitu, ngenes ya ngga menang”

“terus ceritane mau dirubah opo?, ijin dulu karo empu-ne” kata mbahe

“lo mbah ini kan kita ber-dialektika”

“aku seneng kalo yg ber-dialektika itu semar-gareng-petruk-bagong”

memang punakawan lebih menyederhanakan masalah, mereka adalah pengikut setia para satria. tapi kalo semar sudah nggak in mood, tidak ada dewa yang berani meredakannya. urusannya bisa gawat!

“jadi sebaiknya apa mereka itu ndak usah perang,le”

“nggak juga”

“maksud? katanya nggak ada gunanya menang”

“perangnya itu yang membuat pandawa dan kurawa terlihat lebih jelas, salah benar jadi tergantung konteks dan yang lebih luwes adalah kurawa sudah tahu bahwa mereka akan kalah tapi mereka harus mempertahankan astina”

dan kurawa memang kalah.