kenapa kurawa

waktu perang dahsyat “baratayudha” berakhir, astina dimenangkan oleh pandawa-pesta hanya berlangsung sebentar. yudhistira melamun sedih, seperti tidak memenangkan apa-apa! setelah 99 pria kurawa itu kalah perang maka pandawa ujug-ujug kehilangan semangat, tiba tiba tidak rosa rosa seperti eyang maridjan. pandawa tahu bahwa perang itu sudah takdir mereka, juga sudah takdirnya menang, istilahnya udah dari sananya dari yang membuat cerita.

tapi pandawa tak tahu apa yg diperbuat setelah menang? mereka tidak heroik mati saat perang, tidak seperti kurawa yang gugur di kurusetra. pandawa juga tidak meminta perang, toh tetap terjadi. pandawa mungkin tidak suka perang apalagi yang diperangi adalah saudara misan sendiri. tapi perang tetap terjadi, banyak korban dan hamper semuanya saudara sendiri. kalau mau egois sedikit saya bisa bilang: ini hanya hiburan bagi kami, pandawa dan kurawa cuma lakon.

tapi rasa yudhistira setelah perang itu lebih besar dari perang itu sendiri. semua pandawa setelah perang itu diceritakan menjadi pertapa dan mati di gunung. sehabis perang seakan-akan semua energi itu dijinakkan dan itu yang membunuh pandawa.

“le kok rumit yo, wong ini cuman wayang” kata mbahe tole

“lho wayang itu memang dibuat rumit ceritanya, kalau sederhana ya nggak sampe semaleman pentas-nya”

“bukan, itu lho menang ya menang, winner takes all” kata mbahe tole (lagi)

“lho (lagi) pandawa itu mati ngenes gitu, ngenes ya ngga menang”

“terus ceritane mau dirubah opo?, ijin dulu karo empu-ne” kata mbahe

“lo mbah ini kan kita ber-dialektika”

“aku seneng kalo yg ber-dialektika itu semar-gareng-petruk-bagong”

memang punakawan lebih menyederhanakan masalah, mereka adalah pengikut setia para satria. tapi kalo semar sudah nggak in mood, tidak ada dewa yang berani meredakannya. urusannya bisa gawat!

“jadi sebaiknya apa mereka itu ndak usah perang,le”

“nggak juga”

“maksud? katanya nggak ada gunanya menang”

“perangnya itu yang membuat pandawa dan kurawa terlihat lebih jelas, salah benar jadi tergantung konteks dan yang lebih luwes adalah kurawa sudah tahu bahwa mereka akan kalah tapi mereka harus mempertahankan astina”

dan kurawa memang kalah.

Iklan

Satu pemikiran pada “kenapa kurawa

  1. dasar jawa! hehehehe.. tapi cerita wayang itu menarik sekali memang… menurut ibu gue, cerita demikian hanya bisa dibuat oleh orang yang sakti karena kedalaman karakter dan penciptaan cerita yang demikian rumit.

    mmmm… sebaiknya nga usah perang? ide yang indah tapi ngak mungkin, menurut gue perang, konflik dan kompetisi itu intinya jadi manusia… hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s