semudah bikin nasi goreng

‘bikin bom semudah bikin nasi goreng!’ kata pak farihin anggota JI di tvone. nah seharusnya mereka pembom ini dimodali gerobak nasi goreng saja daripada nggak karuan niatnya lebih indah kalau mereka punya usaha, sukur-sukur bisa franchise nasi goreng….franchise kok suicide bomber. mas mas suicide bomber cobalah untuk membuka usaha nasi goreng ini nanti kalau sukses bisa infaq sebesar-besarnya, kan ada 4 orang tuh yang dapet akses langsung masuk surga tanpa dihisab: orang alim yang mengamalkan ilmunya, haji yang waktu ibadah tidak melakukan hal yg membatalkan hajinya, syahid di peperangan, dan orang yang mencari harta yang halal dan membelanjakan dijalan-Nya.

tidak menyenangkan ada bom, bikin repot, bikin trauma dan lain lain. ndak perlu sampai sedramatis cerita korban untuk bilang ledakan bom itu memang kampret. kampretnya begini…terlepas dengan slogan damai yang kinyis-kinyis itu yaitu ada hak istimewa apa orang merampas ketenangan orang lain, menggantinya jadi ketegangan? nggak ada kan.  sialnya bom itu ndak seeperti kentut yang isinya cuma belerang, lha ini isinya paku, gotri, mur atau apa saja yang bisa merusak jaringan hidup. tapi kalau di indonesia ada kesamaannya yaitu nggak ada yang ngaku! tapi yang nuduh banyak bahkan mungkin yang kentut itu sendiri.

nah soal nuduh ini, sekarang sedang terjadi. ada drakula kata pak capres…atau presiden ya?! ndak ada beda. kenapa ya negara ini ndak jauh-jauh dari mahluk horor? selain film-film bioskop itu, dulu ada kolor ijo sekarang ada drakula. di indonesia drakula adanya di panggung srimulat. tadi di kompas.com saya baca berita bahwa tuduhan presiden bahwa kpu akan diduduki dan indonesia akan seperti diirankan ndak terjadi. banyak yang berkomentar mencela sby, ada yang membela dan mencela mega dan lain-lain khas posting komentar berisi pedas tapi ndak berani nulis nama asli. sama pengecutnya dengan suicide bomber toh

Iklan

dia lagi

mengutip headline koran tempo pagi ini. sby mulus melenggang ke istana negara, beberpa minggu hasil survey sedikit membuat ramai dengan turunnya rating pamor sby tapi toh tetap tidak mampu menjegal dia menjadi presiden lagi. dia lagi! untungnya UUD yang sudah diamandemen tidak memberi ruang untuk presiden menjabat 3 kali.

kemarin itu seperti hari lebaran kata komardin hidayat, ada gairah untuk datang ke tps. memang pemilu 2009 lebih greget dari lima tahun lalu, lima tahun lalu pemilu cuma seperti upacara saja sedangkan sekarang mirip dengan sinetron…pake bumbu meskipun nggak pas.

bumbu yang pertama itu namanya kisruh dpt…lho kalo bikin sensus aja ndak bener jangan-jangan jumlah orang miskin yang katanya berkurang  juga nggak bener. lho kalo yang bagus bagus buat incumbent tentu benar, kalau yang jelek ya itu salah institusi toh! sampai akhirnya MK memutuskan boleh memilih menggunakan ktp. eh sialnya banyak kelurahan ketiban kerjaan ngurusin bikin ktp baru…jadi ini positifnya akhirnya pada bikin ktp.

bumbu yang kedua, polling-polling-an. sebagai orang yang pernah tahu sulitnya bikin penelitian saya agak risih dengan permasalahan metode dan sponsor survey. emang bikin survey itu gampang? nggak-lah saya aja suruh ngulang ambil data sebagai syarat kelulusan. sama seperti bumbu pertama, kalau surveynya tidak bagus maka ini pastilah survey kacangan…kalau surveynya bagus pasti sudah mesam mesem. kita ini gelagapan melihat angka survey, naik turun 1% bingung artinya apa.

bumbu yang ketiga, debat capres. saya sih lebih senang lihat JK! ndak peduli itu karena konsepnya tapi karena gaya ngomongnya. dibanding Mega dan SBY yang anyep-anyep saja, JK lebih berwarna.

‘lho mas kok nggak lihat programnya?’

‘buat apa? wong programnya sama semua, nggak ada yang baru dan beda’

kata pengamat politik kita ini masih ‘pemilih budaya’ bukan ‘pemilih politik’, yang kalem dan yang didzalimi itu yang dipilih. saya ndak sepakat, saya ini ‘pemilih nagabonar’ yaitu metode nagabonar menunjukkan lokasi bentengnya sama belanda, pemilih spontan….jadi memang menggunakan hari nurani toh (murni lagi).

bumbu keempat, yang dalam berapa hari ini mungkin ramai adalah sindrom ndak siap kalah dan ndak siap menang. orang yang ndak siap kalah itu berarti dia juga ndak siap menang. kalah itu ndak menyenangkan, winner takes all! kata al gore waktu kalah dari bush adalah ‘kalah dan menang sama pentingnya karena akan memuliakan jiwa’. ndak tahu memang dia bijak atau buat pencitraan tapi itu kalimat yang bagus.

bumbu kelima, bagi bagi kue! lho ndak ada makan siang gratis kecuali dalam perangkap tikus. sekarang yang menang siap ditagih oleh kongsi-kongsinya, yang penting semua hepi. mari kita hitung parti pendukung dapat jatah apa saja di kabinet. ini kabinet pelangi…ya bukan, ini kabinet gado-gado! ya kadang racikannya pas kadang nggak enak tapi yang penting semuanya deh ada disini seperti kata rina gunawan!