belum ada judul

seperti lagu iwan fals, kadang memang sulit melahirkan judul yang pas. mungkin karena buntu ide atau memang ndak ada kata yang cukup representatif buat menjadi kepala gerbong tulisan dibawahnya. ya sudah bilang saja belum ada judul, seperti mengisi kolom cita-cita waktu sd: belum dipikirkan. melihat tulisan saya yang lalu sangat berbeda, dulu ndak sinis, ndak sarkastik, ndak ngece…dulu tulisan itu lebih kinyis-kinyis, lebih klimis, lebih meraut. kalau saya terawang memang terjadi perubahan. saya dulu menulis buat istriku…sebetulnya buat calon istri. mungkin suara saya pentatonis seperti gamelan jowo jadi lebih baik ditulis daripada bicara…nanti slendro (off key)  kedengarannya.

‘lha sampeyan nulis itu pas masa promosi toh’

‘terserah njenengan menilai’

‘pasti nggombal toh sampeyan’

‘waduh…urusan niat nih udah vertikal, sensornya mas’

’emang bunyi tulisannya kayak apa?’

judulnya ‘bintang perempuan’

di sebuah keluarga bintang. tidak ada masing masing anggota yang lebih terang dari lainnya. mereka ini adalah gugus-gugus yang tidak pernah murung dan biru, hanya ceria yang dikenal.

hukum semesta yang menyingkirkan siang mengganti dengan malam juga memberi tempat bintang-bintang untuk tampil semalam saja.

di ramai bintang-bintang bertemu, satu bintang datang terlambat

datang menentang adat

karena terlihat redup dan lesu.

“mengapa ?” tanya teman-temannya

“aku ingin jadi manusia, aku mau jadi perempuan”

“apa yang kamu beratkan untuknya”

aku ingin punya naluri,

membebaskannya pada siapa saja dan memberikannya sesuka hati

aku ingin punya hati, membagikannya pada orang yang kupilih dan membukanya

untuk dikasihi

dan teman-temannya bisu, bintang itu pergi.

jauh dibawah langit di kampung dunia,

apa yang lebih indah dari tawa manusia.

satu perempuan mengenalkan yang lain pada tawa, karena manjur penyembuh luka katanya.

apa yang lebih hebat dari penularan bahagia ? mungkin itu memang satu misi mahluk manusia.

di tengah riuh riang, perempuan itu duduk sendiri, terpencil dari kelompoknya sesuatu sedang mendesak hatinya.

“apa yang salah?” tanya temannya

“aku ingin jadi bintang”

“mengapa harus?”

aku ingin mengusir gelap, tidak mencacinya hanya menghadirkan terang untuk

semua yang kusayangi

aku ingin punya cahaya sendiri, tidak imitasi hanya untuk penunjuk jalan

yang menginginkan

dan teman-temannya pun diam

perempuan itu silam

di suatu kebetulan, bintang keluar saat senja

dan perempuan melihatnya

di hati mereka tersenyap

“aku ingin jadi dia”

keduanya mendengar batin masing masing

“apakah kau ingin menjadi bintang, tuan?”

ya

“mengapa” dan ia sebutkan niatnya

“apakah kau ingin menjadi perempuan, bintang?”

ya

“mengapa” kemudian ia sampaikan alasannya

tapi aku tidak bisa memberikan hati

dan nuraniku,

karena itu adalah hartaku bilang perempuan

dan aku mustahil memberikan

cahaya dan terangku,

karena itu adalah hidupku bilang bintang

bintang!, bolehkah aku menggandengmu sesaat, dan bintang itu turun dari senja

tuan!, bisakah aku bersandar padamu, dan perempuan itu membuka tangannya

sejenak mereka bersatu,

tapi bukankah ukuran waktu bisa tak tentu

ah betapa serasinya itu dua anak alam

bintang dan perempuan

bintang…. perempuan….

bintang perempuan

adakah nama yang lebih tepat dari itu

‘kok bintang perempuan mas?’

‘lha itu nama istri saya jeh’

‘siapa?’

‘kartika rini, kartika itu bintang, rini itu perempuan’

*tulisan buat istriku yang hebat,  sangat hebat bahkan….. i love u full!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s