28 oktober

800px-kongrespemuda2di tahun 1928, orang orang muda indonesia dari sumatera sampai ambon melego visi mereka dalam sumpah pemuda. setiap mendengar kata sumpah pemuda pikiran progrsif saya ini selalu sok nantang ‘memangnya semuda apa mereka?’, ini hasil temuan saya

mohammad yamin, orang sawahlunto yang juga salah satu perintis kemerdekaan dan anggota BPUPKI..pada saat konggres pemuda berusia 25 tahun.

sunario sastrowardoyo, berlatar pendidikan hukum lulusan belanda dan pernah menjadi menteri luar negeri pada 1953 – 1955. beliau adalah orang terakhir yang berpidato di konggres tersebut berusia 26 tahun.

wr supratman yang memperdengarkan indonesia raya di konggres itu baru genap berusia 25 tahun. sedangkan dia menciptakan indonesia raya pada umurnya yg ke 21.

dan satu lagi adalah sugondo djoyopuspito, anak muda yang memimpin konggres itu masih berusia 24 tahun.

memangnya kenapa saya harus nakal dengan menantang kepemudaan mereka? karena yg saya tahu saat ini organisasi kepemudaan dipimpin oleh orang yang usianya mungkin beda 2 digit tahun dari anak muda di konggres pemuda 28 oktober 1928 itu!

sukarno sesumbar ‘ berikan aku 100 orang tua maka akan kupindahkan gunung, berikan aku 10 orang pemuda dan akan kuguncang dunia’ lho jadi ngguncang dunia itu sopo? atau yang memindahkan gunung itu sopo? toh tetap pemuda jadi semacam baskom ekspektasi. semua menaruh harap bahwa inilah anak anak yang nanti akan menggantikan yang tua. mereka yang diharapkan nanti jadi pemimpin (walaupun saat memimpin sudah ndak muda lagi).

di salah satu lapangan parkir depan balairung ui, temen satu angkatans saya bilang

‘payah anak baru lembek’ emang udah ditowal towel koq tahu

nah ini semacam bakteri suprematus senioritus, merasa masa mereka lebih berat dan jaman adik adik mereka lebih toleran. saya termasuk orang yang nggak yakin bahwa generasi saya lebih ‘tahan’ dibanding generasi dibawah saya. komentar soal anak baru yang lembek seperti orang kentut tapi ndak bau…maksudnya biar perut nggak jadi kembung saja. masalahnya komentar seperti itu selalu ramai saat angkatan baru masuk…hei pren udahlah.

singkong itu mengkel direbus atau digoreng enak, nah tape diperem juga mak nyuss.

 

Iklan

menteri mantri

chessdi jalur ring road balairung ke fkm ui, percakapan yang ganjil itu terjadi. saya bersama teman saya (beda 3 tahun angkatan) sedang membahas kabinet barunya presiden wahid atau gus dur. sebagai mahasiswa sains saya bertanya kok bisa AS Hikam jadi menristek?

‘pak, menteri itu kan jabatan politis!’ kata temen saya ini

‘lho kan harus kompeten juga’

‘nah itu nomer dua’ (mungkin nomer satunya kecap)

perbincangan itu terjadi di motor gl max tunggangan saya waktu kuliah. sekarang bartahun-tahun setelahnya presiden terpilih sedang melengkapi tim-nya untuk berlaga 5 tahun kedepan. tiga hari disiapkan oleh sby untuk mewawancarai kandidat. kalau tiga hari salah pilih maka 5 tahun kita rakyat yang ketempuhan.

kalau saya nunggu berapa wakil partai yang masuk dalam kabinet ini, lalu berapa yang profesional. nah seminggu ini banyak dikotomi antara wakil partai dan profesional seolah olah dua hal itu tidak ada kaitan. sepertinya lebih masuk akal saya kalau klasifikasinya adalah wakil partai dan non wakil partai…iya dong! nggak bisa pake elemen ‘profesional’ karena mosok pilihannya yang profesional dan tidak profesional iya kan.

nantinya tim pak sby seperti tim sepakbola, ada pemain striker yang harusnya bikin gol tapi malah ‘bunuh diri’ atau ada gelandang yang nggak kuat lari atau mungkin ada pemain yang cuma lari lari aja tanpa dapet bola…nah semoga mereka yang bermain seperti itu bisa langsung diganti dengan cadangannya..tentu yang mainnya nggak lebih parah.

bebek canggih

bebek apa yang canggih? ya bebekberi dong!

obama-bb285di kompas.com salah satu headline di section tekno seperti menyindir  bunyinya Pengguna BlackBerry di Indonesia Kebanyakan Hanya untuk “Lifestyle”! lho memang ada masalah apa dengan lifestyle? ndak ada kan. saya ingat ketika tahun 1998 saya di terima di jurusan fisika..iya fisika! ada dosen yang nyindir bangsa ini adalah penganut bt7 beli teknologi tingkat tinggi tinggal tekan tombol tanpa tahu teori..ha! nah ini seperti demam pda jaman dulu ketika banyak penggunanya yang diunderestimate beli pda buat gaya. saya yakin mungkin saat ini pengguna blackberry (saya tidak kebetulan) hanya menggunakan 20 – 30 persen fasilitasnya, seperti facebook dan twitter. kalau memang benar lalu kenapa, kita juga hanya menggunakan 10 persen kapasitas otak kita toh?! lalu ada mahluk mars yang nyindir kita ‘hahaha orang planet bumi punya otak hanya buat gaya gayaan biar dikira mikir’ hayoo…touche!

temen saya bilang bahwa adopsi teknologi di indonesia suka aneh. ya itu maksudnya pengguna teknologi untuk gaya, padahal yang saya pelajari teknologi adalah untuk memudahkan hidup manusia! jadi kalau beli blackberry terus utang dan ndak mampu bayar nantinya maka itu jadi mempersulit hidup, iya kan? sekarang semua juga pada buka laptop di kafe, entah apa yang sedang diperbuat dengan laptopnya.

ketika obama kekeuh untuk mempertahankan blackberrynya sedangkan apple getol memberi iphone maka itu menjadi promosi gratis blackberry sejagad. obama merasa memiliki blackberry adalah usaha untuk ‘membumi’..lho beda dong dengan headline di kompas.com, disini blackberry dibuat untuk ‘melangit’ hahaha. kenapa ya? mungkin pake blackberry biar tambah keren? ah nggak juga banyak temen saya memang sudah kinyis kinyis dari sananya sebelum jaman pager sekalipun. atau mungkin jadi ‘kutu tren’ kalau ndak pake bb ya ndak hip! masa sih? ah tahu apa saya.

lha kembali ke penggunaan bb yang hanya untuk fb dan twitter, menurut saya sih mirip dengan kita mendiami rumah. wong tinggi badan dan berat rata rata orang mongoloid kok rumahnya ya berhektar-hektar? sama kan?

batik punya siapa

source: telegraph.co.uk
source: telegraph.co.uk

ibu saya -sebagai orang jawa pernah cerita berbagai macam motif batik : kawung-lah, truntum-lah, parang kencono-lah dan lain lain. yang saya tahu cuma truntum dan kawung saja..dituduh kurang jowo ya terserah. kemudian ketika negara jiran malaysia menyatakan batik milik mereka, saya termasuk yang biasa saja bereaksi wong saya juga nggak terlalu suka pake batik. sebetulnya stigma yang dipaksakan kepada batik yaitu batik adalah baju upacara, kondangan dan sunatan justru membebani batik. stigma itu yang membuat saya mikir mikir untuk mengenakan batik.

ingatan batik saya yang kedua adalah nelson mandela, presiden afrika selatan pasca runtuhnya apartheid. presiden yang punya nama asli rohlihlala dan seorang petinju pada masa mudanya itu adalah maniak batik iwan tirta. lho wong negro saja mau pake batik kok kita nggak mau…lha disana kan kondangan ngga pake batik (yaa bukan itu alasannya). atau pada saat pak de clinton menggunakan batik berfoto di depan istana bogor tahun 1992, wah ternyata bule juga pas tuh pake batik. batik sebetulnya sudah mendunia saat itu!

hari ini tanggal 2 oktober 2009, UNESCO  mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia. apabila diterima proposal indonesia ini maka batik akan menjadi hal ketiga yang dikukuhkan badan dunia itu setelah wayang dan keris. menyusul didaftarkan adalah angklung dan gamelan. pasti ini bukan kebetulan kan, setiap ada barang yang diakui negara lain maka kita langsung ‘mutung’ dan segera merajuk ke pbb iya kan ndak gitu kan.

’emang kalau sudah jadi warisan budaya dunia apa dampaknya, oom?’

‘dampaknya nanti bisa jadi orang norwegia lebih tahu sifat tokoh wayang seperti werkudoro dibanding anak saya yang ada darah jowo-nya’

‘atau orang orang di itali lebih tahu soal keris nogososro daripada anak anak di indonesia’

masa sih?…itu mungkin kegilaan imajinasi saya bercampur sifat sinis sial ini yang sudah meresap. ndak lah 🙂

tapi kan sebetulnya kalau kita mendaftarkan budaya kita sebagai warisan dunia tidak serta merta berharap dunia jadi ‘watchdog’ kita bila ada maling budaya mencuri punya kita. atau memang kita mau take it for granted saja ini?

lha tanggungjawabnya indonesia harusnya lebih berat, jangan sampai wayang, keris, batik nanti gamelan dan angklung seperti kebiasaan saya membeli buku. ‘beli aja dulu, baca belakangan’. ‘daftarin aja dulu, diakui dulu, melestarikan? mboh-lah.

hidup warisan budaya indonesia!