batik punya siapa

source: telegraph.co.uk
source: telegraph.co.uk

ibu saya -sebagai orang jawa pernah cerita berbagai macam motif batik : kawung-lah, truntum-lah, parang kencono-lah dan lain lain. yang saya tahu cuma truntum dan kawung saja..dituduh kurang jowo ya terserah. kemudian ketika negara jiran malaysia menyatakan batik milik mereka, saya termasuk yang biasa saja bereaksi wong saya juga nggak terlalu suka pake batik. sebetulnya stigma yang dipaksakan kepada batik yaitu batik adalah baju upacara, kondangan dan sunatan justru membebani batik. stigma itu yang membuat saya mikir mikir untuk mengenakan batik.

ingatan batik saya yang kedua adalah nelson mandela, presiden afrika selatan pasca runtuhnya apartheid. presiden yang punya nama asli rohlihlala dan seorang petinju pada masa mudanya itu adalah maniak batik iwan tirta. lho wong negro saja mau pake batik kok kita nggak mau…lha disana kan kondangan ngga pake batik (yaa bukan itu alasannya). atau pada saat pak de clinton menggunakan batik berfoto di depan istana bogor tahun 1992, wah ternyata bule juga pas tuh pake batik. batik sebetulnya sudah mendunia saat itu!

hari ini tanggal 2 oktober 2009, UNESCO  mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia. apabila diterima proposal indonesia ini maka batik akan menjadi hal ketiga yang dikukuhkan badan dunia itu setelah wayang dan keris. menyusul didaftarkan adalah angklung dan gamelan. pasti ini bukan kebetulan kan, setiap ada barang yang diakui negara lain maka kita langsung ‘mutung’ dan segera merajuk ke pbb iya kan ndak gitu kan.

’emang kalau sudah jadi warisan budaya dunia apa dampaknya, oom?’

‘dampaknya nanti bisa jadi orang norwegia lebih tahu sifat tokoh wayang seperti werkudoro dibanding anak saya yang ada darah jowo-nya’

‘atau orang orang di itali lebih tahu soal keris nogososro daripada anak anak di indonesia’

masa sih?…itu mungkin kegilaan imajinasi saya bercampur sifat sinis sial ini yang sudah meresap. ndak lah 🙂

tapi kan sebetulnya kalau kita mendaftarkan budaya kita sebagai warisan dunia tidak serta merta berharap dunia jadi ‘watchdog’ kita bila ada maling budaya mencuri punya kita. atau memang kita mau take it for granted saja ini?

lha tanggungjawabnya indonesia harusnya lebih berat, jangan sampai wayang, keris, batik nanti gamelan dan angklung seperti kebiasaan saya membeli buku. ‘beli aja dulu, baca belakangan’. ‘daftarin aja dulu, diakui dulu, melestarikan? mboh-lah.

hidup warisan budaya indonesia!

Iklan

2 pemikiran pada “batik punya siapa

  1. ak bingung
    menurut ak budaya it ga penting lho !
    ql mau ambil budaya kita ambil aj kan ga bgtu penting buat kita, lagian ga merugikan kog
    lagian ktany aj kadang ga perduli…
    tapi knpa heboh banget wktu budaya kita d ambil 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s