fashion dan ke-able-an kita

Source: http://ajiputrap.blogspot.com/20...uck.html

diantara anda yang membaca tulisan ini sebagai cemilan saja, adakah yang merasa fashionable? saya jelas enggak-saya nggak terlalu able di lapangan ini. fashionable itu seperti gelar pak kyai, ndak bermaksud melecehkan agama-maksudnya yang melekatkan label itu ya masyarakat bukan label institusi. lalu apakah menjadi fashionable itu perlu? ndak tahu…saya jelas bilang ntar dulu karena ketidak-able-an saya. itu kalau saya tapi bisa saja ada sekelompok orang yang able tidak setuju..nah itu demokrasi.

ada sebagian populasi dunia ini yang memahami bahwa menjadi fashionable itu seperti paspor. nggak punya paspor ya silakan mbulet sendiri! lalu apa yang terjadi bila ada orang tidak punya ke-able-an fashion terdampar di suatu fashion week? ada yang tahu?

‘mungkin itu seperti perawan di sarang penyamun, mas’

‘huss…komentarnya yg fashionable dikit dong’

‘maaf mas, kalau gitu itu seperti pake mink coat di kereta matarmaja’……opo maneh?!

‘maksud?’

‘nggak cocok’

nah itu adalah saya yang tercelup dalam keriuhan fashion week, seperti kodok yang baru dibuka tempurungnya. masalahnya waktu membuka tempurungnya dilakukan di alun alun bukan di rawa rawa. jadi cerita si kodok yang kesasar ini adalah fabel buat saya..jauhlah dari cinderella story :-). sebagai orang yang positif (atau tidak ada opsi) saya yakin pasti ada hal baik buat saya di ‘kolam’ ini, ayolah pasti ada sesuatu yang positif.  pikiran positif itu sama dengan pikiran negatif, yaitu sama sama kalau dipikirkan pasti akan ketemu 2 hal tadi.

diantara mbak mbak yang kinyis kinyis (mas-nya juga) saya terlihat cuma sebagai cameo, lho jelas mereka ini yang punya karpet merahnya! lha yang punya saya cuma tiker akar wangi buat piknik di bonbin. mbak dan mas yang kinyis tadi adalah orang orang yang akan mengisi tribun ‘altar’ dari fashion week yaitu fashion show dan ternyata duduk paling depan itu menentukan derajat ke-eksis-an mereka.

’emang nonton bioskop?’ kata istri saya yang menurut saya jauh lebih able soal fashion daripada saya…soalnya saya pernah nemenin dia di suatu fashion show dan saya duduk di first row…wow

‘lho kan nggak cuma nonton bioskop…dulu waktu ulangan matematika bu susca, aku selalu disuruh duduk ke depan’

‘iya biar kamu gak nyontek!’

‘bukan tuh, katanya biar gak dicontek…hahahaha’ anda percaya kan..iya kan?!

saat fashion show berlangsung seperti dejavu…yang sangat kuat! yaitu kondisi saat saya mendengarkan kuliah fisika kuantum. persamaan itu adalah soal mahakarya di fisika kuantum banyak terdapat mahakarya bapak bapak fisika seperti einstein, bohr, heisenberg, planck dan rekan rekannya dan di catwalk terpapar mahakarya desainer…tapi sama saja buat saya tetap memandang itu dengan kosong berusaha mati-matian untuk menikmati.

‘terus kamu lulus nggak kuliah kuantum itu?’ pertanyaan istri saya yang terlihat ambigu ngetes dan meragukan

‘lulus dong, C!’

‘ha…nilai minimal’ halah coba kamu yang ikut kuliahnya batin saya

‘eh…kata HR Manager di kantor, C itu meet expectation’

‘lha di fashion show itu kamu lulus gak?’

’emm kayanya harus ngulang deh’….hehehehe dan sering!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s