kitchen kabinet (2)

kalau anda megikuti tulisan saya maka pasti tahu soal kitchen kabinet saya dan juga ceritanya. sedikit mereview, anggota kabinet awal adalah mpok ani, dia tipe staff yang kritis, rajin tapi agak kurang perhitungan. kemudian staff untuk periode kedua apalah mpok mini, jam terbang mumpuni tapi tidak bisa membaca dan menulis…rawan untuk dikibulin oleh tukang sayur, terutama bila para tukang sayur ini mengeluarkan L/C fiktif-gimana bisa tahu wong ndak bisa baca jeh! dengan alasan jam terbang tinggi itu, perdana menteri saya (istri saya) mau merekrutnya dalam kitchen kabinet jilid II. sebulan terakhir tepat saat istri saya mengevaluasi 100 hari kinerja kabinet, mpok mini mengalami degradasi prestasi..sebetulnya saat hari pertama kerja sudah terjadi kehebohan saat baju dinas saya sebagai kepala negara yang pulang pergi naik kereta dicuci dengan pembersih lantai! maklum ndak bisa baca!. tapi yang membuat kami masih mempertahankan mpok mini karena secar jentelmen mengakui kesalahan dan minta maaf..ndak seperti bapak bapak kita yang mbulet kalau buat salah.

kembali ke degradasi prestasi tadi, dalam sebulan mpok mini sering absen dalam tugas tanpa memberitahu. keadaan ini membuat gusar istri saya dimana sebagai perdana menteri, dia harus mencitrakan dirinya sebagai kepala pemerintahan yang mumpuni…maklum di negara saya penganut sistem parlementer bukan presidensial sehingga roda pemerintahan dijalankan oleh perdana menteri. kegusaran itu akhirnya sampai ke telinga saya, nah sebagai kepala negara saya menganut beberapa ‘kaidah pokok’ yaitu ‘pokoknya saya tahu beres’ 🙂

‘ya sudah kalo gitu aku akan melakukan reshuffle kabinet!’ kata istri saya dengan tegas

‘lho jangan buru buru, dipertimbangkan dulu’ sebagai kepala negara di sistem parlementer ya harus bijaksana

‘sudah dipertimbangkan melalui pemikiran yang panjang’ wah..sebenernya istri saya ini cocok jadi politisi dengan ke-kekeuhan-nya

‘nanti mitra koalisi-mu bagaimana??’

‘koalisi opo? saya ini memimpin bukan lagi single majority tapi sudah absolut!’…iya bener juga ya!

‘ya sudah kalau begitu, lanjutkan yang penting jangan sampai terjadi huru hara seperti di thailand’

nah..dasar memang istri saya yang hebat, dua hari lalu sudah ada staff ad interim di kitchen kabinet, kami memanggil mbok saja. buat orang jawa, mbok itu memiliki arti sangat dalam! penyabar, halus dan loyalitasnya yang hampir tanpa batas. sialnya buat mpok mini adalah dia justru kembali absen  saat mbok memulai tugasnya!

doktrin bahwa kompetisi itu membawa perbaikan ada benarnya, kemarin saat mpok mini masuk, dia memperlihatkan kinerja yang baik bahkan lebih rajin dan lebih berinisiatif dari biasanya..tuh kan kompetisi membawa perbaikan. mungkin mpok mini tahu bahwa kinerjanya sedang disorot dan rapornya bukan biru, oleh karenanya dia harus mengejar nilainya agar menjadi biru lagi.

‘gimana nih pak? jadi di reshuffle ndak?’

‘lhoh kan kamu kemarin udah yakin akan memakzulkan mpok mini’

‘tapi kasian juga pak’

‘nah kemarin yang bilang absolut absolutan sopo? ini ndak absolut nih namanya

‘ya udah bu nanti kita buat satgas nya dulu untuk menilai apakah rekomendasi kamu bisa dijalankan atau ndak’

‘tapi pak, jangan kelamaan menindaklanjuti rekomendasi nya’

‘ndak..ndak..emang aku SiBuYa opo?’

Iklan

antri sendal

pernah lihat antrian di mall untuk beli sendal crocs? ular naga panjangnya. saya bukan termasuk pengantre sendal buaya ini, mendengar kata antrian saja sudah jimat pengusir yang ampuh buat saya. di antrian yang panjang itu saya berpikir jangan jangan mereka memang sedang menikmati mengantri untuk membeli sendal ini. yang membuat sendal ini hebat adalah bahannya, saya ndak tahu apakah pembeli itu tahu soal kelebihan ini atau tidak. crocs dibuat dari bahan croslite (sudah dipatenkan…canggih gak?) anti mikroba jadi ndak akan berbau jempol kecuali ketumpahan kuah gule kakap. selain itu mudah dibersihkan dan enteng…saya percaya penemuan ilmiah itu harus mahal.

‘pak, kerok paan sih?’

‘sendal, pok’

‘antriannya kok panjang yak’

‘pan lagi diskon’

‘ooo yg kebakaran kemaren yak’

‘huss ngawur itu mah sendal jepit’

‘lha sendal juga, diinjek injek juga’

‘pan biar gaya, pok’

‘ooo seperti orang yak pak, toh mati juga tapi sombong juga’ mmm ini yang paling nyebelin kalau mpok mulai ke area filosofis kampungnya.

payahnya ketika ada sale crocs di indonesia yang menyebabkan antrian gila, maka ada segelintir orang yang menyorotnya dari masalah sosial.  maklum kita kadang biasa mempolitisasi. seolah olah kebejatan konsumerisme terjadi di saat masyarakat kita sedang mengantre minyak tanah…lho itu sama saja membandingkan ‘kok pada naik kereta ac ekspress ya saat yang lain kaya pindang naik ekonomi!’

rokok haram

bapak saya perokok berat, gudang garam surya 16 kretek-karena jaman itu belum ada mild. melihat mediang sebal sebul asap rokok terlihat menyenangkan apalagi kalau saya request sebulan asapanya dibuat bentuk donat..buat anak kecil seperti saya, atraksi itu hebat dan masih ada jejaknya di kepala saya! keheranan saya terhadap atraksi itu menggoda untuk mencoba kebal kebul asap rokok, penasaran apa nikmatnya menghisap rokok. anak kecil merokok? jelas dilarang! ibu saya bilang ‘kamu baru boleh merokok kalau sudah bisa cari uang sendiri!’…tentu saja itu excuse yang sampai sekarang masih saya pikirkan. pertama merokok adalah selebrasi atas keberhasilan saya memperoleh uang dari kerja bukan untuk alasan stres. yang kedua merokok itu seperti jalur three in one, boleh dengan syarat!

nah seminggu ini berkembang soal pro kontra fatwa haram merokok, seperti biasa kita suka tersedot pada perdebatan panjang. terakhir adalah dukungan fatwa haram oleh ormas islam muhamadiyah-walaupun masih malu malu mengakui. di sisi lain ormas islam terbesar NU tidak mengamini fatwa ini-yang memang sebagian besar kiainya perokok (seperti ditulis di Koran Tempo hari ini). fatwa haram rokok seperti lagu usang yang dicoba dinyanyikan ulang, emangnya masalah rokok itu evergreen?!  pemerintah juga punya dua muka soal rokok, selalu memberi peringatan bahayanya tapi juga mnyedot pajaknya…repot!

bapak saya bilang kalau pemerintah tidak mungkin melarang peredaran rokok karena duit yang diberikan ke negara sangat besar. target pemerintah tahun ini sebesar 50 trilyun lebih dari cukai rokok saja, itu sama dengan 5 kali nilai anggaran untuk alutsista. bahkan mungkin cukai rokok itu juga membiayai anggaran pendidikan, kesehatan atau malah MUI…(itulah menyenangkannya di negara ini, banyak hal sarkastik).

‘mas tapi kalau pabrik rokok ditutup yang nganggur yo banyak’

‘memang, tapi mereka ini yang mas khawatirkan ini ndak masuk orang terkaya dunia versi Forbes!’

‘maksud’

‘3 orang Indonesia yang masuk Forbes sebagai orang terkaya di dunia adalah pemiliki pabrik rokok bukan buruhnya’

‘sing bener mas?’

‘iyo, lha nanti kalau cukai rokok dinaikkan yang demo ya buruhnya ini yang disuruh panas-panasan’

‘jadi mas setuju ndak rokok diharamkan?’

‘wah aku bukan ulamanya jeh, ndak punya ijtihad yang valid’

‘mas, tapi menteri agama bilangnya dimakruhkan saja’

‘kata presidennya apa?’

‘waduh mboh, nunggu 6 bulan lagi kali’

…mm gini aja menurut saya biarkan rokok haram atau makruh ndak ada bedanya, wong minuman yang beralkohol yang haram juga dibiarin aja. pragmatis aja, selama produk haram itu bisa diporotin lewat pajak ya biarin aja..gitu ndak? ya tentu aja tidak! gitu aja