rokok haram

bapak saya perokok berat, gudang garam surya 16 kretek-karena jaman itu belum ada mild. melihat mediang sebal sebul asap rokok terlihat menyenangkan apalagi kalau saya request sebulan asapanya dibuat bentuk donat..buat anak kecil seperti saya, atraksi itu hebat dan masih ada jejaknya di kepala saya! keheranan saya terhadap atraksi itu menggoda untuk mencoba kebal kebul asap rokok, penasaran apa nikmatnya menghisap rokok. anak kecil merokok? jelas dilarang! ibu saya bilang ‘kamu baru boleh merokok kalau sudah bisa cari uang sendiri!’…tentu saja itu excuse yang sampai sekarang masih saya pikirkan. pertama merokok adalah selebrasi atas keberhasilan saya memperoleh uang dari kerja bukan untuk alasan stres. yang kedua merokok itu seperti jalur three in one, boleh dengan syarat!

nah seminggu ini berkembang soal pro kontra fatwa haram merokok, seperti biasa kita suka tersedot pada perdebatan panjang. terakhir adalah dukungan fatwa haram oleh ormas islam muhamadiyah-walaupun masih malu malu mengakui. di sisi lain ormas islam terbesar NU tidak mengamini fatwa ini-yang memang sebagian besar kiainya perokok (seperti ditulis di Koran Tempo hari ini). fatwa haram rokok seperti lagu usang yang dicoba dinyanyikan ulang, emangnya masalah rokok itu evergreen?!  pemerintah juga punya dua muka soal rokok, selalu memberi peringatan bahayanya tapi juga mnyedot pajaknya…repot!

bapak saya bilang kalau pemerintah tidak mungkin melarang peredaran rokok karena duit yang diberikan ke negara sangat besar. target pemerintah tahun ini sebesar 50 trilyun lebih dari cukai rokok saja, itu sama dengan 5 kali nilai anggaran untuk alutsista. bahkan mungkin cukai rokok itu juga membiayai anggaran pendidikan, kesehatan atau malah MUI…(itulah menyenangkannya di negara ini, banyak hal sarkastik).

‘mas tapi kalau pabrik rokok ditutup yang nganggur yo banyak’

‘memang, tapi mereka ini yang mas khawatirkan ini ndak masuk orang terkaya dunia versi Forbes!’

‘maksud’

‘3 orang Indonesia yang masuk Forbes sebagai orang terkaya di dunia adalah pemiliki pabrik rokok bukan buruhnya’

‘sing bener mas?’

‘iyo, lha nanti kalau cukai rokok dinaikkan yang demo ya buruhnya ini yang disuruh panas-panasan’

‘jadi mas setuju ndak rokok diharamkan?’

‘wah aku bukan ulamanya jeh, ndak punya ijtihad yang valid’

‘mas, tapi menteri agama bilangnya dimakruhkan saja’

‘kata presidennya apa?’

‘waduh mboh, nunggu 6 bulan lagi kali’

…mm gini aja menurut saya biarkan rokok haram atau makruh ndak ada bedanya, wong minuman yang beralkohol yang haram juga dibiarin aja. pragmatis aja, selama produk haram itu bisa diporotin lewat pajak ya biarin aja..gitu ndak? ya tentu aja tidak! gitu aja

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s