Whatsapp Group The Series : Prolog

5fd07f4457e65d44a8ad8a32328a6205

Tahun 2009, Jan Koum dan Brian Acton melamar kerja ke Facebook dan Twitter dan ditolak dengan sukses. Menyerah? nope! mereka kemudian membuat Whatsapp-apps pengiriman pesan- dan tahun 2014 Facebook mengakuisisi Whatsapp dengan nilai 19 Milyar USD. Sembilan belas milyar USD itu bisa buat APBD DKI Jakarta 4 tahun sudah pake kayang segala macem…Sokil! Pada April 2014, Whatsapp mencuit bahwa mereka memiliki rekor dalam pertukaran pesan; 20 milyar pesan terkirim dan 44 milyar pesan diterima. Lho kenapa lebih banyak pesan diterima? karena kontribusi Whatsapp Group…jadi kalau hp sampeyan hang, lemot, batere ngedrop ya karena itu.

Whatsapp grup buat orang Indonesia sama seperti, makan cilok ngga pake tusuk gigi….mati gaya. Pernah pada satu acara ketemu kawan smp yang belum tergabung di grup smp, report ke group

‘hey guys, aku ketemu….(sebut saja melati)’

‘wooo, ajak join di grup dong’…lah emang dikira kita sales MLM, ngejar tutup poin

‘okedeh’

singkatnya langsung tanya ke yang bersangkutan…

‘eh…kamu, iya kamuu’

‘apa?’

‘nih anak2 grup smp nanyain kamu, mau join di grup smp ga?’

‘yaaah aku punya 17 grup WA nih, udah kebanyakan’…ha? 17 grup Wa? mungkin punya 8 handphone dan 45 akun propic…17-8-45

‘oh oke deh’ what…17 grup? jangkrikboss

Coba kita buka Whatsapp kita mulai menghitung berapa grup kita tergabung? banyak ga? Whatsapp group ini jawaban yang pas buat memanjakan kebiasaan kita (iya kita) bergerombol, berserikat, berpendapat, bergosip dan lain lain…dengan kata lain ini aplikasi yang punya semangat pasal 28 uud 45.

Whatsapp group itu analoginya seperti perumahan cluster area sub-urban dan rapat RT, kok bisa? penghuninya mungkin bisa 90 – 100 kepala keluarga, tapi yang nongol di rapat RT paling cuma 7 atau kurang. Dari 7 peserta mungkin cuma 3 orang yang aktif. Empat orang lain ngapain dong?…lagi chat di WhatsApp Group mereka masing-masing.

Iklan